POV Rakyat - Momentum Hari Media Sosial Nasional kembali menjadi ruang refleksi kritis bagi perkembangan lansekap digital di Indonesia. Universitas Airlangga (UNAIR) melalui kajian akademisnya menyoroti pergeseran fungsi media sosial yang kini tidak lagi sebatas alat komunikasi antarpribadi (social network), melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen kekuasaan politik dan pembentukan opini publik yang masif.
Perkembangan algoritma platform digital saat ini dinilai memiliki peran besar dalam mengarahkan sudut pandang masyarakat. Media sosial tidak lagi bekerja secara netral; sistem ini dirancang untuk terus menyuplai konten yang sesuai dengan preferensi pengguna. Dampaknya, ruang digital kini kerap terjebak dalam fenomena echo chamber atau ruang gema, di mana masyarakat hanya mendengarkan suara-suara yang seragam dan cenderung mengabaikan perspektif alternatif.
Kondisi tersebut memicu polarisasi yang tajam di tengah masyarakat, terutama saat menyangkut isu-isu krusial seperti politik, kebijakan publik, hingga dogma sosial. Kecepatan penyebaran informasi yang tidak diimbangi dengan kedalaman literasi digital membuat opini publik di media sosial menjadi sangat rentan dimanipulasi oleh kepentingan kelompok tertentu melalui orkestrasi narasi yang sistematis.
"Media sosial hari ini memegang kuasa besar dalam menentukan apa yang dianggap penting oleh publik. Jika masyarakat tidak kritis, kita hanya akan menjadi objek dari pusaran opini yang dikendalikan oleh algoritma," ungkap salah seorang pakar komunikasi politik UNAIR saat membedah dinamika teks digital.
Melalui ulasan kritis pada peringatan tahun ini, dunia akademik mengingatkan publik mengenai pentingnya menumbuhkan skeptisisme sehat di ruang siber. Media sosial diakui memiliki dampak demokratisasi informasi yang luar biasa, namun tanpa adanya kesadaran kolektif untuk memverifikasi data, platform jejaring ini berisiko menjadi bumerang yang mengancam stabilitas nalar sehat publik secara nasional.